Pengantar Konseling dan Psikoterapi
Pengantar Konseling dan Psikoterapi
Andi Mappiare AT
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Penerbit PT. RajaGrafindo Persada (Rajawali Press), Jakarta, Edisi Kedua, 2010
-------------------------------------------------------------------------------------------------
RINGKASAN
Pengantar Konseling dan Psikoterapi merupakan buku yang berisi informasi dasar dalam hal pengetahuan konseling dan psikoterapi. Pengetahuan demikian ini adalah bagian dari seperangkat bekal para mahasiswa yang belajar dalam bidang layanan/bantuan psikososial, calon helper. Para mahasiswa calon helper lazimnya menempuh pendidikan dan pelatihan dalam (salah-satu dari) jurusan-jurusan psikologi (terutama psikologi klinis dan psikiatri), bimbingan dan konseling, sosiatri, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan sosial. Pada beberapa jurusan atau fakultas, isi bahasan dalam buku ini merupakan bahasan lanjut dari pengetahuan prasyarat yang bersifat lebih umum cakupannya menurut karakteristik kelompok bidang studi sesuatu jurusan atau fakultas. Pengetahuan prasyarat dimaksud, sebagai misal, adalah mata pelajaran Pengantar Bimbingan dan Konseling pada Jurusan Bimbingan dan Konseling. .
Sifat bahasan buku ini terutama bertolak pada tiga pokok kerangka pikir: (1) psikologi belajar, (2) metodologi pengajaran, dan (3) etika penyajian informasi. Pada terbitan edisi pertama (1992) kerangka pikir itu diterapkan dalam pemaparan lima bab yaitu: Pengantar ke Pemahaman Konseling (Bab I), Konseling: Hakikat dan Perkembangan (Bab II); Konseling:Ekspektasi dan Tujuan (Bab III), Aspek Psikologis dalam Konseling: Perkembangan dan Masalah Klien (Bab IV), dan Aspek Psikologis dalam Konseling: Pribadi dan Keterampilan Konselor
Atas sejumlah pertimbangan prinsip dan teknis, dengan tetap bertolak pada tiga kerangka pikir tersebut, dalam Edisi II buku ini dilakukan revisi dalam beberapa bagian dari Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Bagian-bagian dimaksud adalah: pertama, penambahan ‘peristiwa utama’ dalam Sejarah Konseling selama abad 20 pada Bab II; kedua, pembaharuan teks dan kepustakaan pada Bab III; ketiga, penambahan satu bab pada bagian akhir buku, yaitu paradigma dan ancangan konseling pada Bab VI; keempat, penggantian kode etik profesi bimbingan dan konseling pada Lampiran II; terakhir, penambahan daftar pustaka. Buku ini juga menyertakan rumusan ringkasan umum etik dan tanggung jawab konselor (lampiran 1), dan rumusan terbaru kode etik bimbingan dan konseling Indonesia.
Last Updated (Thursday, 01 July 2010 01:25)
Kamus Istilah Konseling dan Terapi
Kamus Istilah Konseling dan Terapi Andi Mappiare AT--------------------------------------------------------------------------------- Penerbit PT. RajaGrafindo Persada (Rajawali Press), Jakarta, 2006 ---------------------------------------------------------------------------------
RINGKASAN ‘Kamus Istilah’ ini diorganisasikan dalam enam bagian utama: Pendahuluan, Istilah dan Konsepsi (A-Z) sebagai ‘Batang Tubuh’, Silang Konsep, Silang Nama, Daftar Pustaka, dan Apendik. Bagian yang disebut ‘Batang Tubuh’ adalah inti (core) ‘Kamus Istilah’ ini. Penyajian istilah dalam ‘Batang Tubuh’ dikategorikan dan disusun menurut urutan abjad. Paparan pengertian atau definisi suatu istilah, kon-sep atau konstruk dalam ‘Batang Tubuh’ adalah sederhana, tegas dan lu-gas. Paparan demikian adalah berbeda dibandingkan dengan yang ada dalam, misalnya, Kamus (Dictionary) yaitu arti kata singkat, banyak ca-kupan arti setiap kata atau dalam ‘Kamus Lengkap’ (Encyclopedia), penjelasan luas dan mendalam pada tiap istilah suatu bidang ilmu. Pemaparan singkat tiap pengertian, definisi, dalam ‘Batang Tubuh’ difokuskan pada keterangan “apa”, “bagaimana”, “di mana”, “siapa”, “kapan” sebagai unsur yang relevan bagi penjelas suatu istilah, konsep atau konstruk konseling dan terapi. Sejalan dengan sentralitas dan kom-pleksitas tuntutan penjelasan suatu istilah, ada istilah yang dijelaskan de-ngan unsur lengkap dan ada pula yang tidak. Pada beberapa istilah ditam-bahkan keterangan hubungan dan/atau perbedaan dengan istilah lain. Ada dua keterangan penting dieksplisitkan untuk memperoleh kemudahan memahami paparan ‘Kamus Istilah’ ini yaitu soal arti simbol dan cara pemakaiannya yaitu arti simbol dan petunjuk pemakaian. ‘Kamus Istilah’ ini juga memuat enam apendik menurut fungsi dan tempatnya masing-masing, yaitu: (a) daftar terbaru divisi-divisi assosiasi konseling Amerika, (b) daftar singkatan lain yang sering dipakai dalam literatur konseling, (c) perbandingan ancangan dan teori konseling, (d) perbandingan model terapi keluarga, (f) kerangka terorganisasi program bantuan bagi murid dengan masalah belajar khusus, (g) daftarcek masalah ~ sebuah contoh sederhana dari Pusat Konseling Universitas Florida, dan (h) media penafsiran burnout konselor.
Last Updated (Thursday, 01 July 2010 01:24) KESETARAAN GENDER DALAM PEMBELAJARAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH NUSANTARAMUSLIHATI Jurusan BKP Fak Ilmu Pendidikan UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Dimuat Pada Jurnal Psikologi Edisi 26 Volume 13 Tahun 2008 Diterbitkan oleh Program Studi Psikologi FPBS Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
A qualitative research with case-study design was conducted to explore the implementing of gender equality by the teachers in learning process for 4th and 6th graders at Islamic elementary school. Interviews and observations were utilized as tools for data collection. The principal, the teachers and the students were then interviewed and the school environment was observed. Using qualitative coding and gender analysis pathway (GAP) method to analyze the implementation of gender equality in learning process indicate the moderate level of gender equality for the teachers. Regardless of their perspectives in seeing boys and girls have the same level of competitiveness as well as the opportunities for success, they threat them differently when assigning tasks in which physical strength are needed to perform such tasks. They assign the girls with the tasks that no need much physical strength as the controversies for the boys.
Last Updated (Friday, 11 June 2010 06:49) |
Identitas Religius di balik jilbab: Perspektif Sosiologi Kritik
Identitas Religius di balik jilbab:Perspektif Sosiologi Kritik
Andi Mappiare AT-------------------------------------------------------- Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press) September 2009 --------------------------------------------------------- RINGKASAN Buku ini berasal dari riset yang berlandaskan pada fenomena empirik yaitu pemahaman perempuan Islam, mahasiswi pemakai jilbab, ‘Jilbab Modis’ (‘Funky’, ‘Non-Funky’) dalam konteks struktur (religi dan ideologi, melalui otoritas). Situs studi adalah seputar ‘tempat kerja’ suatu Fakultas Psikologi di Malang. Pemakaian ‘Jilbab’ sedemikian itu dipahami oleh subjek sebagai simbol identitas religius (Islam); namun, itu dipahami oleh banyak elit Islam sebagai lain dari kaidah berjilbab. Identitas religius dikonsepsikan secara dialektis yaitu pemahaman diri, pemahaman oleh struktur, dan transaksi antarpemahaman dengan mana individu menetapkan arah identifikasi religius, sebagaimana digunakan oleh perumus teori dialektik a’la Marx, termasuk Fromm. Religiusitas difokuskan pada dimensi konsekuensinya menurut Stark dan Glock (dalam Robertson, 1988: 195 – 297). Metode studi adalah kualitatif jenis ethnography, tipe ‘etnografi kritik terfokus’(Alvesson dan Skoldberg, 2000: 141). Pengumpulan data dengan teknik observasi berpartisipasi aktif secara medium, interviu mendalam, dan teknik ‘life history’. Analisis melalui strategi ‘interpretasi bersusun’ (“triple hermeneutic”). Inti kesimpulanya merupakan suatu proposisi inti mengenai adanya interkoneksi dan kontradiksi antara identitas subjek dan karakter struktur. Terdapat suatu ‘totalisme’ dan sifat mutually symbiotic antara variasi tipe identitas subjek dan dinamika karakter struktur. Dalam ‘irama’ karakter struktur yang berfluktuasi secara dinamis, subjek secara bebas dan fleksibel membentuk tipe identitas mereka. Subjek dapat berorientasi ‘berpunya’ sekaligus ‘berbuat’ melalui ‘permainan strategik’, lebih didominasi kesadaran religius ~ dalam mana terdapat ‘filter agen’ yang menyaring filter sosial. Proposisi ini tidak mendukung sepenuhnya teori Fromm yang menyatakan bahwa koneksitas subjek dan struktur bersifat linier, deterministik, subjek ditempatkan ‘vis-a’-vis’ dengan struktur (Fromm, 1970; interpretasi Boeree, 2002a; interpretasi Kellner, 2003a). Fromm memandang manusia tidak pernah bisa bebas sebab cenderung lari dari kebebasan atas dominasi kesadaran palsu, distorsi visi realitas, ketaksadaran bersama, cenderung beradaptasi dan konformis sebab memuaskan secara fisik dan spiritual; struktur patriarki menghambat kebebasan manusia menegaskan identitas. Kuat orientasi ‘berpunya’ (‘having mode’) manusia sehingga tidak mampu mentransformasikan ‘bebas dari’ (dominasi religi, ideologi, dan ekonomi) menjadi ‘bebas untuk’ (‘berbuat’ atau ‘being mode’). Dipaparkan pula konflik dan konsensus dalam perkembangan identitas subjek, ada tarik-menarik duniawi-ukhrawi dan bermartabat-berkerabat (sekuritas versus kebebasan).
Last Updated (Thursday, 01 July 2010 01:23) PERAN MEDIA MASSA DALAM PROSES PENDIDIKAN DI MASYARAKATThe process of education does not depend fully on the various kinds of the activities done by the formal school. Other institution that is also considered very imporetant to build character to the society is Mass Media. This writing aims at studying the role of Mass Media especially the television of education. The Main argumentation is that education should be seen as the part of the development of the national culture. |


